Searching. Finding. The losing.
Suatu hari yuuki bertanya, gimana rasanya dicari lalu ditemukan.
Bisa jadi nggak sebaik itu.
Karena kadang, kita ingin ditemukan oleh orang yang kita cari.
That is how the heart chooses strangely.
Searching. Finding. The losing.
Suatu hari yuuki bertanya, gimana rasanya dicari lalu ditemukan.
Bisa jadi nggak sebaik itu.
Karena kadang, kita ingin ditemukan oleh orang yang kita cari.
That is how the heart chooses strangely.
The more you care, the more you get hurt.
The more you try not to care, still the more you get hurt.
Care and love.
To do or try not to do.
It's always about you getting hurt.
Akhir-akhir ini aku berusaha untuk selalu mengucap doa yang acapkali terlupa sebelum menutup mata.
Aku takut esok pagi dan seterusnya aku tak akan pernah lagi terjaga.
Ini game android. Namanya, Hijab Salon kalo nggak salah. Aku iseng nginstall di hp, buat mainan aja. Tapi aku suka layout cewenya. Dia cantik, dan berhijab. Selain bisa ganti warna mata, bentuk dan warna hijab, warna eyeshadow, warna lipstik, blush on, bentuk alis dan maskara, seperti dress up make up games umumnya, kita juga bisa ganti warna kulit.
Aku suka ngasih dia warna kulit kayak di gambar ini, kadang sedikit lebih terang, cuma sedikit tapi.. Rasanya ngeliat kulitku sendiri. Sayang nggak ada aksesoris kacamata. Kalo ada mungkin aku bisa bikin dia kayak avatar. Tapi mataku nggak seindah itu, hidungku apalagi. Pendek kata, gimana juga cewe itu jauh terlalu cantik buat dibikin avatarku.
Nah, bicara soal warna kulit, aku berkulit gelap. Gen bapak begitu dominan, sampe aku ngerasa jadi mutan di tengah sepupu dari mama, karena kulitku dan almarhum kakak paling gelap. Waktu sd, bahkan ada 2 anak nakal di kelas yang suka ngatain aku dakocan saking gelapnya kulitku. Aku inget mereka dengan baik karena mereka berdua cowo.
Anggeplah itu kenakalan bocah. Tapi sepanjang remaja, smp dan sma, aku suka minder sama kulit gelapku. Aku suka pake rok seragam yang agak jauh di bawah lutut, biar betis itemku nggak begitu kentara kalo pergi sekolah. Aku juga nggak nyaman deketan sama temen cewe yang kulitnya putih, aku bakal keliatan makin item.
Parahnya lagi, waktu kuliah semester awal, jaman ospek maba, aku pernah dikatain kaki diplitur sama cowo yang aku nggak kenal. Anak fakultas lain yang papasan di jalan. Ceritanya waktu itu aku pake rok - masih jauh di bawah lutut - hitam dan kemeja putih, seragam wajib ospek maba. Mungkin waktu itu aku pake lotion kebanyakan, entah. Tapi setelah hari itu, sampe ospek selesai, aku selalu pake celana panjang. Hhh, aku sakit hati waktu itu, cowo itu nyeletuk dengan wajah tanpa dosa sambil cekikikan sama temennya. Pasti dia kena karma, udah bikin aku sakit hati.
See. Semua yang ngatain aku adalah cowo. Cowo Indonesia. Yang dengan piciknya selalu menganggap cewe cantik adalah cewe berkulit putih kayak nonik tionghoa. Bahkan sampe sedewasa ini, lingkunganku selalu dipenuhi dengan cowo yang menilai cewe putih itu cantik. Ak, mungkin seantero jagat Indonesia Raya mikir kayak gitu. Tau sendiri gimana gencarnya iklan pemutih wajah yang makin mensugesti masyarakat kalo putih itu cantik.
Aku hampir benci mereka. Cowo-cowo picik yang ngeliat jijik cewe berkulit gelap. Mereka pikir mereka ganteng sedunia akherat mungkin, bisa nilai orang segitu ceteknya. Arghhh!!! Bahkan sekalipun sekarang kulitku nggak segelap dulu.
Aku selalu senyum asem tiap ketemu orang yang bilang, 'Eh, kamu putih ya sekarang', atau 'Kulitmu kok tambah bersih'. F**k you! Pengen sih neriakin itu, emang aku dulu sebutek apaaaaa?!?!?!?! Tapi biasanya aku cuman senyum sambil bilang, masa? seringan ngac mungkin ya..
Fiuh.. hahah.. jadi miris setengah emosi jiwa tiap inget kasus warna kulit. Udah berasa diskriminasi apartheid aja. Gosh, it's not that I want them to call me pretty. Geez.. my skin was, is, and will always be a dark one. Aku juga nggak pengen dibilang cantik sama cowo-cowo yang pikirannya cetek kayak mereka.
Oh boy, aku emosi jiwa..
Sepanjang jalan di pagi ini
Aku dihantam kenangan bertubi-tubi
Menciptakan perih di hati
Hingga tubuhku serasa mati
Setiap kali pulang kantor saat hari sudah gelap, melewati alun-alun kecamatan, melihat pasar malam mini dengan segala jenis odong-odongnya itu, entah kenapa selalu teringat bocah ini.
Apa kabar, nak?
Ada apa dengan jam 1 dini hari?
Hampir setiap hari dia memaksaku membuka mata lalu terjaga hingga beberapa waktu setelahnya.
Aku berusaha mengingat kisah tentang orang-orang yang mati oleh apapun yang ditanamnya sendiri.
Seperti guru yang mati oleh ilmu yang diajarkan pada muridnya.
Seperti pekebun yang terjerat leher oleh sulur tanaman yang dipupuknya.
Lalu apa peribahasanya?
Entahlah,
Tapi kurasa aku mengalaminya.
Aku tidur sehabis adzan isya tadi, jam 7 malem. Dan 2 jam setelahnya sampe detik ini, here I am, ngelilir dengan terpaksa karena denger suara mbokde yang lagi berkunjung ke rumah.
Btw, aku sangat nunggu-nunggu minggu depan, tanggal 23 tepatnya. Itu tanggal gajian, haha.. tabunganku habis setelah beli mobil dan beli handphone, pfftt..
Aku pengen beli buku lagi. Meskipun sedang not in the mood of reading.
Beberapa waktu lalu aku bikin rak buku sendiri *banggabangetgueh*
Beli besi siku lonjoran, dibantuin bapak motongin di bengkel mas Bangun, trus aku rakit sendiri raknya. Dalam bayanganku sebelumnya, rak itu bakal langsing, tapi tinggi dan penuh buku. Tapi itu bayanganku aja..
Karena ternyata bukuku nggak sebanyak itu, padahal kemaren-kemarennya pas disimpen dalem lemari, berasa nggak cukup aja saking banyaknya. Ah, raknya juga nggak sesuai bayanganku karena jadinya ternyata pendek banget.
Jadi, aku mimpi punya buku sebanyak di gambar kiri, in the contrary, bukuku masih sebanyak yang kanan. Ak, berkurang 1 pula karena takkirim buat jun-chan.
Aku mau berusaha kembali tidur.
10.31.
Mbokde baru aja pulang.
Beberapa waktu yang lalu, aku punya setoples cokelat dengan bentuk yang lucu-lucu. Suvenir ulang tahun anak tetangga.
Aku nggak sanggup habisin sendirian, maka takbawa ke kantor buat dimakan rame-rame bareng temen-temen.
Setelah tinggal 2 butir, aku baru nyadar kalo ada cokelat yang bentuknya kepala panda. Aku bela-belain nyimpen sebutir cokelat panda itu tetep dalem toples, taktaruh di mejaku. Aku berkali-kali mengagumi bentuk pandanya yang rapi.
Suatu sore, pas habis sholat ashar, mas Djun manggil aku yang lagi ngelipat mukena.
'Mbak, cokelate kari siji, takjupuk..'
Refleks aku teriak 'Akkk, pandaaaa'
Mas Djun keliatan kaget sambil nyodorin cokelat bentuk panda di tangannya yang udah tinggal separuh gigitan.
Ya ampun.. panda yang takjaga berhari-hari.. aku bahkan nggak tau bakalan bisa makan apa nggak. Kalo bisa kapan bakal dimakannya. Dan mas Djun langsung nyomot dan ngunyah cokelat itu begitu aja. :(
Kesel rasanya. Lebih ke kecewa. Tapi nggak tega juga pas mas Djun nyesel sambil bilang mau ganti. Ya udah, takbilang biarin aja, nggak usah diganti.
Kadang kita memang harus merelakan sesuatu yang kita jaga baik-baik justru buat dinikmati orang lain. Kan?
Trus beberapa hari lalu jun-chan dengan anehnya ngirim cokelat oleh-oleh dari Malaysia, ada permen lolli bentuk panda juga. Katanya pas ngeliat permen ini dia inget aku. Ga tau bener apa bohong.
Mungkin sekarang dia harus ngeliat benda tertentu dulu baru inget sama mbaknya. Atau mungkin tiap-tiap benda di Malaysia ngingetin dia sama orang yang berbeda-beda.
Ngomong-ngomong, aku juga nggak tau sanggup makan permen lolli itu apa nggak.
Semua hal kesayangan yang justru kita ikhlaskan buat orang lain, akan diganti (dengan yang lebih baik). Aku nggak tau apa permen lolli dari jun-chan lebih baik daripada cokelat yang dimakan mas Djun.
Ini hari pertama di 2015, btw.
Dan cerita ini nggak ada hubungannya sama hal itu.
Sekian.
Aku memeluk Panpan
Lalu dua bulir mencuci mata
Dini hari ini
Aku menepuk punggung Panpan
Berharap bisa menidurkannya
Lalu aku terlelap sendiri
Karena ada beberapa orang yang begitu mudah digantikan,
Dan ada yang sama sekali tak terganti
Lalu ada beberapa orang yang bisa melupakan dengan satu kali jentikan jari,
Dan ada yang setengah mati tak bisa lupa
Aku sering terlelap saat hari belum terlalu malam, terutama di hari-hari kerja. Aku menggeletakkan diri begitu saja di kasur, saat merasa tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Lalu aku akan tertidur.
Tidur lebih awal untuk kemudian bangun di tengah malam. Istilah jawanya ngelilir. Dan ngelilirku ini, seringkali diikuti oleh kancilen. Sulit buat kembali tidur.
Ada masanya, aku mensyukuri kebiasaan ngelilirku. Aku akan bangun, bersuci dan berdoa. Sepertiga malam waktu yang berharga buat berdoa, aku ingat itu dengan baik.
Pernah suatu ketika dulu, aku begitu menikmati kebiasaan ngelilirku. Mengecek emailku dengan tablet. Berbalas dengan seseorang yang berarti dan pernah menganggapku sama berartinya.
Sudahlah..
Belakangan ini, ngelilir dan kancilen sangat mengganggu. Alih-alih bangun untuk bersuci dan berdoa, aku justru bergelimpangan di kasur berusaha keras untuk kembali tidur. Tapi seringkali keheningan menyeretku dalam pikiran tak berkesudahan yang menyesakkan dan akhirnya memaksaku menangis.
Kemudian aku akan terbangun dalam keadaan merasa lelah.
Belakangan ini aku selalu merindukan hujan. Gerahnya hari seringkali menggelisahkan. Sungguh, berulang kali aku berucap bahwa aku merindukan hujan.
Lalu hari ini hujan pertamaku datang. Sore menjelang petang. Hujan pertama yang sebenarnya bisa kurasakan. Bukan hanya bekas basah dan dinginnya, tapi juga tetesnya.
Dan sepanjang jalan pulang suasana menjadi lengang. Lalu sekali lagi keheningan membawa pikiran yang tak berkesudahan.
Begitulah..
Picture cr to : LINE Deco
Karena untuk setiap hal yang dipentingkan, selalu ada hal lain yang diabaikan.
Dan untuk setiap hal yang diistimewakan, selalu ada hal lain yang dibuang.
.
.
.
Ada yang tau Masha and The Bear yang selalu tayang di stasiun TV swasta ANTV setiap pagi dan siang menjelang sore?
Ada yang suka nonton? Oke, anggap aku nggak bertanya karena nggak ada siapapun selain aku di sini, tapi aku suka :)
Meskipun episode yang ditayangkan diulang-ulang, itu-itu saja, dan aku hampir hapal dengan isi ceritanya.
Masha and The Bear adalah sebuah seri animasi asal Rusia. Mari kita skip tahun rilis atau creatornya, kita fokus pada tokoh ceritanya saja. Kita? Lu aja kali, gue nggak. Hahah.. Iya, aku lupa kalo nggak ada siapapun selain aku di sini >_<
Masha, adalah seorang bocah perempuan sekaligus satu-satunya manusia dalam cerita ini. Dia tinggal di dekat hutan, di dekat rel kereta api :D
Masha bersahabat-anggap saja begitu istilahnya-dengan seekor beruang dewasa, The Bear.
Si Beruang dulunya adalah bintang sirkus, dia tinggal di sebuah pondok kayu dengan interior rumah minimalis di tengah hutan. Layaknya orang tua, satu-satunya penghuni hutan yang hidup ala manusia ini seringkali merawat Masha dan mampu mengatasi kebandelannya.
Iya, si kecil Masha ini amat sangat bandel dan bikin geregetan. Kalau mau jujur, mungkin sebenarnya Si Beruang lebih sering terganggu dengan kehadiran Masha di rumahnya. Karena selain bandel, Masha doyan ngerecokin dan mengacau. Tapi, seterganggu apapun Si Beruang, pada akhirnya dia nggak akan semudah itu 'menyingkirkan' Masha. Meski awalnya terpakasa meladeni, ada saja hikmah atau kelucuan dari setiap kekacauan yang dibuat Masha.
Karena kebandelannya, nggak jarang Masha ditinggal sembunyi oleh hewan-hewan hutan yang ada di sekitar rumahnya. Nggak ada yang mau bermain dengannya. Mungkin karena kesepian dan nggak ada tempat lain untuk dituju, Masha selalu datang dan secara nggak langsung mengganggu Si Beruang. Tapi bukan asal bandel dan mengganggu, saat Si Beruang sakit atau sedih, Masha bisa jadi satu-satunya orang yang peduli padanya.
Seperti sepasang sahabat, Masha dan Si Beruang saling melengkapi. Meski bahasa mereka berbeda, mereka saling memahami. Aku tau itu cuma cerita, animasi pula. Tapi bukan berarti nggak ada nilai apapun di dalamnya kan?
Seperti sepasang sahabat, Masha dan Si Beruang merasa terikat karena saling membutuhkan. Meskipun awalnya terpaksa, Si Beruang pada akhirnya selalu terlihat bahagia atas apa yang dilakukannya untuk Masha. Demikian Masha, meski bandel dan merepotkan, dia selalu punya cara sendiri untuk menolong dan memberi perhatian pada Si Beruang.
Tertawa adalah hal yang otomatis terjadi saat nonton animasi ini. Aku pribadi, setiap selesai satu judul atau bahkan satu episode cerita, selalu terpikir betapa persahabatan memang selalu seperti itu. Ada yang bikin rempong, ada yang telaten. Ada yang bandel, ada yang sabar. Ada yang sedih, ada yang menghibur.
Masha and The Bear, in your friendship, which one are you?
.
.
.
Siapa yang butuh koneksi internet,
kalau orang-orang yang ingin, harus, dan perlu kamu hubungi ada di dekatmu, di sekitarmu..